Sabtu, 24 September 2011

SIKLUS SEKARAT


Siklus Sekarat

Sekumpulan seniman yang terdiri dari Allatief, Ali Vesva, Aris Munandar, Adhik Kristiantoro, Budi Barnabas, Budi Santoso, Bambang Harnowo, Doni Kabo, Frangky Pandana, fredi Slamet Widodo, Harlen, Huluq Nurdian, Ismanto Wahyudi, Joni Candra, Kadir Supartini, Lanjar Jiwo, May Janae Vita, Martono, Malaikat, Noor Ibrahim, Novanda yudha Bakti, Ono Gaf, Priyaris Munandar, Syalabi Asya, Syahrizal Zain Koto, Sri Pramono, Sutrisno Abdi Brow, Sumarwan, Toh Jayatomo, Tri Suharyanto, Tri Patworo, Yustoni Valuntero, Yayas, Yoyok Basuki, secara bersama-sama mempersebahkan berbagai bentuk karya yang dilatarbelakangi oleh pemikiran tentang “Sekarat”.
Konsepsi “Sekarat” yang menjadi dasar pemikiran mereka, tidak melulu berhubungan dengan kematian. Sekarat dalam konsepsi mereka dimaknai sebagai suatu ukuran yang harus difahami dan diejawantahkan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam definisi ukuran, kita tentunya mengenal istilah satu kilo gram, kilo meter, atau hekto are, dan selain itu ada juga istilah karat, yaitu satuan untuk mengukur tingkat kemurnian logam mulia. Maka istilah “sekarat”, mengacu ada istiah satu-karat atau se-karat.
Namun untuk memahami istilah sekarat dalam konsepsi pameran karya-karya patung kali ini mesti dimulai dari istilah “Sekarat” yang diartikan sebagai pungkasan hidup manusia yang sudah lama menjadi tolok ukur mengenai nilai-nilai spiritual dalam kehidupan. Nilai-nilai spiritual semacam tiu didapatkan  melalui laku kebatinan. Dalam perjalanan waktu nilai-nilai spiritual menjadi pijakan tatanan moralitas manusia. Maka melalui perjalanan spiritual inilah timbul penjelmaan-penjelmaan yang berbentuk patung yang dlam istilah kita lebih azim disebut arca.
Seni arca diyakini sama tuanya dengan kehidupan manusia, yakni semenjak mereka mengenal nilai-nilai moral. Nilai-nilai semacam itu lambat laun membentuk budaya ritual yang kemudian melahirkan tradisi seni.
Di Indonesia karya-karya patung tradisi disebut dengan istilah seni arca, yang timbul semenjak zaman prasejarah dan diyakini sebagai penjelmaan dewa atau biasa disebut “Sanghyang” yang berarti yang menguasai alam. Penjelmaan ini biasanya diwujudkan dalam bentuk simbol-simbol. Wacana seni arca sebagai perwujudan “sanghyang” ini berlanjut terus hingga lahirnya seni rupa modern Indonesia.
Pada era modern, seni arca tidak lagi mengungkapkan nilai-nilai spiritual, tetapi lebih menekankan bentuk-bentuk metafor dari kehidupan manusia sehari-hari. Era seni rupa modern ini, secara bentuk  menjadi titik pijakan para pematung dalam pameran kali ini, sedangkan secara konsep bisa kita tanggapi sebagai tranformasi nilai-nilai spiritual yang berasal dari masa tradisional yang dejawantahkan dalam kehidupan modern-kontemporer.
Pada masa tradisi, semua kegiatan manusia diperuntukkan guna mengabdikan diri kepada Tuhan “Hyang Murbeng Alam”. Karya-karya seni mereka difungsikan sebagai mediasi pengabdian mereka kepada Tuhan yang dijelmakan melalui simbol arca yang mewujudkan pemimpin atau raja mereka. Perwujudan seni arca biasanya merupakan pusat dari prosesi ritual mereka yang diselenggarakan dengan memainkan alat musik dan tari-tarian. Kegiatan ini berlangsung terus hingga datangnya bangsa barat ke negeri ini, yang menjadi titik awal tumbuhnya seni modern ala Barat di Indonesia.
Dalam memberi penafsiran terhadap pameran patung “Sekarat” ini diperlukan kejelian, mengingat karya-karya yang dipamerkan adalah bentuk-bentuk patung dalam wacana kontemporer sedangkan konsepsi wacana yang ditawarkan adalah konsep kehidupan tradisi masyarakat Indonesia. Maka ada baiknya saya melihat gejala pertumbuhan seni patung baru di Indonesia terlebih dahulu, sebelum menginjak kepada wacananya.
Terdapat tidak gejala pertumbuhan seni patung baru di Indonesia yang nyaris tidak berhbungan antara satu dengan lainnya. Pertama, akibat percobaan dari sejumlah pelukis untuk membuat karya patung; kedua, perwujudan konsepsi nasionalisme oleh pemerintah yang diwujudkan melalui karya-karya patung monumental; dan ketiga, akibat perkembangan wawasan seni di  jurusan patung di akademi-akademi seni rupa.
Gejala pertama terihat dari percobaan Affandi pada awal tahun 1940an dengan membuat karya patung dari tanah liat, yang kemudian ia pamerkan bersama lukisan-luisannya di Jakarta. Karya patung tanah liat Affandi tidak diselesaikan hingga proses pembakaran, tetapi dibiarkan apa adanya. Pada tahun 1948, Affanda kembali memamerkan karya-karya patung tanah liatnya di Yogyakarta bersama Hendra Gunawan, Trubus, Rustamadji, Edhi Sunarso, Sumitro dan Saptoto yang juga mencoba membuat karya-karya patung selain lukisan-lukisan mereka yang sudah dikenal banyak kalangan. Karya-karya seni patung Affandi segera menunjukkan gejala membuat patung modern. Bentuk figur pada patung-patungnya menyimpang dari proporsi anatomi dan memperlihatkan gejala distorsi.
Gejala kedua adalah pertumbuhan karya-karya patung monumental pada tahun 1950an, yang dikerjakan antara lain oleh pematung Hendra Gunawan dan Edhi Sunarso. Di masa ini muncul kecenderungan untuk membuat monumen-monumen kemenangan bangsa Indonesia melawan penjajah Belanda. Kedekatan Presiden Soekarno dengan para seniman memicu perkembangan patung monumental di masa itu.
Perkembangan patung monumen dikembangkan terus oleh Edhi Sunarso, antara lain dengan teknik cetak perunggu dan mengolah ekspresi figur yang tidak sekedar realistik namun lebih menonjolkan ekspresi beserta tonjolan otot-otot guna membakar semangat nasionalisme publik yang melihatnya. Pembuatan patung menumen ini berkelanjutan hingga melahirkan berbagai kompetisi seni patung, antara lain yang diselenggarakan oleh Ciputra.
Namun perkembangan seni patung monumen bukan berarti menghentikan gejala baru dalam perkembangan seni patung kontemporer Indonesia. Gejala ketiga dari perkembangan seni patung muncul di akademi-akademi seni rupa jurusan seni patung terutama ASRI dan ITB pada akhir 1960-an dan awal 1970-an. Melalui berbagai studi, para pematung generasi muda mulai berkenalan dengan segmen-segmen yang memiliki kualitas bentuk. Kepekaan seniman dilatih untuk menghayati aksi – reaksi antar segmen, mengejar nilai proporsional bentuk dan perhitungan. Perkembangan selanjutnya adalah pengolahan gagasan yng berasal dari bahan dan benda-benda, yang kemudian berlanjut ke penghayatan bentuk-bentuk murni dari gagasan mereka.
Perjalanan seni patung Indonesia sudah mengalami berbagai proses sesuai dengan jangkauan kemampuan para seniman yang bertitik tolak pada wacana dan keahlian teknis mereka, yang kemudian melahirkan karya-karya instalasi. Karya-karya semacam ini pernah menggejalan di era seni rupa kontemporer Indonesia awal 1980-an.
Pada era terkini istilah untuk menyebut karya-karya patung sepertinya sudah diganti dengan kata karya tiga dimensi. Penyebutan “seni patung” sudah dianggap suatu istilah konvensional yang ketinggalan zaman. Kejadian ini terutama disebabkan oleh merebaknya berbagai jenis media yang mampu menjembatani dan memfasilitasi kepentingan berkaya para seniman dalam meraih eksistensi mereka. Namun demikian para seniman yang tergabung dalam perhelatan seni patung “Sekarat’ ini masih menyebut karya-karya mereka dengan istilah “patung”.    
Namun demikian, hemat saya, yang perlu mendapat perhatian dalam pameran ini justru gagasan mengenai konsepsi “Sekarat”. Gagasan tersebut mengacu pada pijakan tradisi untuk diwacanakan dalam karya-karya seni atung kontemporer. Pengertian “Sekarat” bagi mereka tidak melulu berhubungan dengan sekaratul maut, namun lebih menekankan kepada suatu proses yang mesti dijalani oleh seseorang atau sekelompok manuasia yang dikorbankan. Sekarat di sini bisa diartikan sebagai metafor yag bersifat ironi dari ketimpangan sosial yang berpengaruh terhadap kondisi alam yang semakin ekstrim.
Dalam tradisi leluhur kita, ketika timbul suatu bencana, biasanya diselenggarakan upacara “kurban. Mereka menganggap bahwa bencana bisa terjadi atas kehendak alam. Mereka kemudian mendidik generasi berikutnya supaya mampu menanggulangi kekuatan alam. Tetapi ketika banyak manusia yang terdidik dan terlatih untuk mengelola dan memanfaatkan alam, keadaan justru menjadi terbalik. Alam yang ramah, tiba-tiba menjadi sumber bencana yang berlanjut ke bencana-bencana berikutnya termasuk bencana pikiran dan kepercayaan bahkan keyakinan.
Kata “sekarat” mengingatkan kita kepada keadaan sekeliling yang semakin genting. Kita bisa melihat situasi pereknomian kita yang dimotori orang-orang terdidik namun justru semakin hari semakin mengkhawatirkan, kondisi keamanan yang kian rawan, situasi politik yang melahirkan tradisi korupsi dan menimbulkan krisis kepercayaan. Situasi semacam ini semakin memperjelas ketidakjelasan kehidupan kita di negeri ini, yang bahkan bisa saja melahirkan siklus. Siklus “sekarat” inilah yang mereka ejawantahkan melalui karya-karyanya kali ini.
 Kiranya perhelatan pameran seni patung “sekarat” ini cukup penting, karena setidaknya menyuguhkan pemikiran yang mungkin bisa kita diskusikan bersama-sama.

Yogyakarta, 19 September 2011


           AA Nurjaman

Tidak ada komentar:

Posting Komentar